Supermoon-Perigeemoon

Supermoon atau Perigeemoon?

Beberapa waktu ini ramai dibicarakan suatu fenomena yang disebut dengan Supermoon. Banyak diberitakan bahwa pada 19 Maret 2011 pukul 19 : 10 UT atau 20 Maret 2011 pukul 02 : 10 WIB Bulan akan berada pada jarak terdekatnya dari Bumi dibandingkan posisinya pada 18 tahun terakhir. Tersiar kabar bahwa Bulan pada tanggal 19 Maret 2011 itu akan tampak 6x lebih besar daripada biasanya. Banyak pula dibicarakan fenomena tersebut akan menyebabkan terjadinya bencana. Terlebih, pada 11 Maret 2011 lalu terjadi gempabumi dan tsunami Jepang. Benarkah fenomena ini?

Untuk menjawab benar tidaknya fenomena tersebut, alangkah baiknya kita ketahui dulu definisi Supermoon tersebut. Sebagaimana dikutip situs Wikipedia, Richard Nolle, seorang astrologer (harap dibedakan dengan astronom), mendefinisikan bahwa Supermoon adalah [1,2] “…a new or full moon which occurs with the Moon at or near (within 90% of) its closest approach to Earth in a given orbit.” Selain mendefinisikan Supermoon, ia juga mengaitkan peristiwa tersebut dengan terjadinya bencana di muka Bumi [2]. Inilah definisi Supermoon, yang sebenarnya tidak begitu diterima di komunitas ilmiah, terutama karena dikaitkannya peristiwa astronomis dengan terjadinya bencana di muka Bumi. Meskipun demikian, mari kita bahas tinjauan astronomis fenomena Supermoon ini dan terkait tidaknya ia dengan peristiwa bencana alam di muka Bumi.

Berdasarkan definisinya tersebut Supermoon hanya akan terjadi pada saat bulan dalam fase bulan baru atau purnama dan jaraknya dari Bumi di sekitar perigee. Jika kita perhatikan ternyata periode rata-rata bagi Bulan untuk berubah dari fase purnama ke purnama berikutnya atau dari fase bulan baru ke bulan baru berikutnya (disebut juga periode sinodis Bulan) adalah 29,53 hari. Karena Bulan mengelilingi Bumi dalam orbit ellips, maka pada suatu saat bulan akan berada pada titik terdekatnya dari Bumi dan titik terdekat ini disebut perigee. Adapun titik terjauhnya disebut apogee. Periode rata-rata revolusi Bulan dari titik apogee ke titik apogee lagi (disebut periode anomalistik) saat ia mengelilingi Bumi adalah 27,55 hari.

Dari dua macam periode tersebut dapat kita ketahui bahwa tidak setiap bulan baru atau purnama terjadi ketika bulan di sekitar perigeenya. Hanya pada waktu tertentu saja hal ini bisa terjadi. Anggap hari ini bulan purnama bertepatan dengan posisi Bulan di perigee dan kita ingin mengetahui kapan lagi peristiwa tersebut akan terjadi. Untuk melakukan hal ini kita kalikan sajaperiode anomalistik dengan suatu angka, katakanlah X, dan periode sinodis dengan suatu angka lain, misalnya Y. Aturannya adalah hasil perkalian antara keduanya haruslah menghasilkan angka yang hampir berdekatan. Ternyata, setelah dilakukan perhitungan, hasilnya adalah nilai X sekitar 239 dan nilai Y sekitar 223. Ini artinya Bulan harus mengelilingi Bumi sebanyak 239 kali dihitung dari perigee dan fase purnama Bulan harus berulang sebanyak 223 kali agar peristiwa supermoon itu akan terjadi lagi. Jika dihitung, peristiwa supermoon itu dapat diprediksikan berulang setiap 18 tahun 10 hari 22,5 jam. Jika hal ini diterapkan pada supermoon 19 Maret 2011, maka supermoon yang berasosiasi dengan supermoon tanggal ini adalah 30 Maret 2029 pukul 5 : 41 UT. Kita juga bisa merunut peristiwa supermoon pada masa lalu yang berasosiasi dengan supermoon 19 Maret 2011. Ternyata hasilnya adalah supermoon 18 tahun yang lalu terjadi pada 8 Maret 1993 pukul 8 : 36 UT.

Jika supermoon yang berasosiasi tersebut hanya terjadi 18 tahun sekali, apakah di antara tanggal 8 Maret 1993 dan 19 Maret 2011 serta antara tanggal 19 Maret 2011 dan 30 Maret 2029 tidak ada supermoon? Ternyata jawabannya adalah terjadi supermoon juga. Mengapa bisa ada supermoon lain di antara dua supermoon? Peristiwa ini mirip dengan gerhana Bulan atau Matahari, yang keterasosiasian antara satu gerhana dengan gerhana lainnya dinyatakan dengan siklus Saros, yang lamanya adalah sekitar 18 tahun 11 hari 8 jam.  Meskipun satu gerhana berasosiasi dengan gerhana yang terjadi 18 tahun kemudian, kejadian gerhana Bulan minimal terjadi 2 kali dalam setahun. Ini karena dua gerhana yang berdekatan itu tidak berasosiasi. Demikian juga dengan peristiwa supermoon ini, meskipun antara dua supermoon yang berasosiasi terjadi setiap 18 tahun sekali, di antara dua supermoon itu ada supermoon lain yang tidak berasosiasi dengan kedua supermoon tersebut. Dan ternyata, hampir setiap tahun terjadi peristiwa supermoon! Hal ini lebih jelas dapat dilihat pada tabel 1 berikut. Adapun pada tabel 2 diperlihatkan fenomena supermoon pada 18 tahun terakhir yang bertepatan dengan fase purnama. Pada tabel 3 diperlihatkan prediksi fenomena supermoon 18 tahun ke depan yang bertepatan dengan fase purnama.

Tabel 1. Fenomena Supermoon 17 tahun terakhir dan prediksi 18 tahun ke depan
Tabel 2. Fenomena Supermoon yang bertepatan dengan fase purnama untuk 17 tahun terakhir

Tabel 3. Prediksi Fenomena Supermoon yang bertepatan dengan fase purnama untuk 18 tahun ke depan

 

Berbeda dengan siklus Saros, yang dapat digunakan untuk memprediksi waktu dan informasi lain yang terkait dengan gerhana Matahari atau gerhana Bulan, siklus supermoon ini tidak demikian adanya. Siklus supermoon ini tidak bisa dengan tepat memprediksikan supermoon yang berasosiasi dengan supermoon pada suatu waktu. Ini karena selisih jarak antara dua supermoon yang berasosiasi bisa mencapai 100 km. Karena itu, supermoonnya bisa bergeser ke bulan lainnya. Sebagai contoh adalah kasus supermoon tahun 1995, yang terjadi pada 22 Desember 1995 pukul 10:08 UT saat fase bulan baru. Dengan mengacu siklus supermoon, semestinya supermoon yang berasosiasi dengan supermoon ini akan terjadi pada 1 Januari 2014 pukul 21:01 dengan jarak 356921 km. Ternyata pada tahun 2014  ada fenomena supermoon lain dengan jarak yang lebih dekat, yaitu yang terjadi pada 10 agustus 2014 pukul 17:44 UT saat fase purnama dengan jarak 356896 km. Karena itulah, sesungguhnya, dalam satu tahun pun bisa ada 2 fenomena supermoon dengan jarak yang hampir berdekatan! Adapun untuk kasus fenomena supermoon yang berasosiasi dengan supermoon tahun 2002 s.d. 2004, yaitu supermoon tahun 2020 s.d. 2024, ternyata masing-masing bergeser satu siklus purnama ke depan, sebagaimana dapat dibandingkan pada tabel 2 dan 3 di atas.

Baik dari tabel 1, tabel 2 maupun tabel 3, kita ketahui juga ternyata fenomena supermoon tahun 2011 ini bukanlah yang terdekat dalam 18 tahun terakhir. Dalam 18 tahun terakhir, ternyata ada fenomena supermoon lain yang jaraknya lebih dekat 10 km daripada supermoon tahun ini. Fenomena itu terjadi pada tahun 2008. Hanya saja bulan saat di perigee pada tahun 2008 tersebut terjadi hampir 5 jam setelah fase puncak purnamanya. Sementara  untuk tahun ini, bulan di perigee terjadi hampir 1 jam setelah puncak purnamanya.

Selain supermoon 2008, ternyata ada supermoon lain yang jarak Bulan-Buminya lebih dekat daripada tahun ini. Peristiwa itu terjadi pada tahun 2016 dan 2018. Khusus untuk supermoon tahun 2016, ternyata peristiwa tahun tersebut adalah peristiwa ketika Bulan dengan jarak terdekat untuk waktu 41 tahun, yaitu sejak supermoon 1975. Supermoon 1975 ini terjadi pada 25 Februari 1975 pukul 21:58 UT dengan jarak 356519 km dan terjadi hampir 3 jam sebelum puncak purnamanya. Supermoon dengan jarak seperti ini akan kembali terjadi pada supermoon 2036, yaitu saat perigee-nya terjadi pada 13 Januari 2036 pukul 8:49 dengan jarak 356518 dan terjadi hampir 2 jam sebelum puncak purnamanya.

Supermoon dan Bencana Alam

Sebagaimana definisinya, para astrologer (bukan astronom), menyatakan bahwa saat terjadi supermoon, maka akan terjadi bencana. Contoh bencana yang banyak diberitakan adalah peristiwa bencana gempabumi dan tsunami Aceh yang terjadi pada 26 Desember 2004 pukul 07:58 WIB (= pukul 00:58 UT). Contoh terbaru yang banyak diberitakan adalah peristiwa gempabumi dan tsunami Jepang 11 Maret 2011 pukul 14:46 Waktu Jepang ( = pukul 07:46 UT). Statemen yang banyak beredar adalah gempabumi dan tsunami Aceh terjadi 2 minggu sebelum supermoon pada Januari 2005. Adapun gempabumi dan tsunami Jepang terjadi 8 hari sebelum supermoon 19 Maret 2011. Benarkah keterkaitan ini?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita harus mengingat bahwa periode anomalistik terjadi selama 27,55 hari. Dalam waktu 27,55 hari ini tentu saja Bulan akan melalui titik perigee dan apogeenya masing-masing satu kali. Jika dimisalkan terjadi peritiwa supermoon, maka kita dapat meprediksikan secara kasar bahwa hampir 2 minggu sebelum dan sesudah hari ini, Bulan akan berada di sekitar titik terjauhnya (apogee). Dengan demikian, gempabumi dan tsunami Aceh 26 Desember 2004 yang terjadi dua minggu sebelum supermoon pada Januari 2005 terjadi pada saat bulan hampir di titik terjauhnya. Dan berdasarkan perhitungan, memang demikianlah yang terjadi. Pada saat gempabumi dan tsunami Aceh terjadi, jarak Bulan adalah 402046 km. Bulan di apogee sendiri terjadi pada 27 Desember 2004  pukul 19:16 UT dengan jarak 406487. Dengan memperhatikan dekatnya waktu saat gempabumi terjadi dan saat Bulan saat di apogee, dapatlah disimpulkan gempabumi dan tsunami Aceh terjadi pada saat Bulan hampir di sekitar apogeenya. Karena itu, jika ditinjau dari jaraknya, keterkaitan gempabumi dan tsunami Aceh dengan supermoon pada Januari 2005 tidaklah berdasar sama sekali. Demikian juga dengan gempabumi dan tsunami Jepang. Pada saat gempabumi terjadi, jarak Bumi-Bulan adalah 396132 km. Jarak ini lebih jauh daripada jarak rata-rata Bumi-Bulan, yaitu 384400 km.

Jika demikian halnya, bagaimana dengan bencana alam lain yang diklaim terjadi karena supermoon? Bisa saja hal tersebut terjadi pada waktu bersamaan dengan peristiwa supermoon namun antara keduanya tidak ada keterkaitan sama sekali. Bisa juga berkaitan dengan tingkat keterkaitan yang belum diketahui. Untuk menyimpulkan terkait tidaknya antara kedua hal tersebut, haruslah dilakukan telaah yang lebih dalam bukan hanya dari segi supermoon, namun juga segi lainnya, misalnya struktur geofisika Bumi. Namun demikian, kewaspadaan untuk menghadapi bencana apapaun dan saat kapanpun tetaplah harus dikedepankan.

Contoh kewaspadaan ini adalah bagi penduduk di daerah pantai. Ini karena posisi dan fase Bulan sangat mempengaruhi pasang surut air laut. Jika jarak Bumi-Bulan berada di sekitar perigee dan fase Bulan adalah purnama atau bulan baru, efeknya pada pasang surut air laut akan lebih besar dibandingkan dengan kondisi fase purnama atau bulan baru tetapi jaraknya bukan di sekitar perigee. Tentu saja, efek lain pun mesti diperhatikan dalam pasang surut air laut ini, misalnya angin laut yang akan menyebabkan pasang naik dan angin darat yang akan menyebabkan pasang surut. Terlebih, jika kondisi pasang surut ini disertai dengan cuaca buruk. Tentu saja kewaspadaan harus lebih ditingkatkan lagi.

Kondisi Tampakan Bulan saat Supermoon

Apakah yang terjadi dengan Bulan saat supermoon berlangsung? Tidak ada yang berubah! Hanya tampakannya saja dari Bumi menjadi terlihat lebih besar daripada biasanya, jika kita dapat melihatnya. Tentu saja kita tidak akan bisa melihat supermoon saat fase bulan baru. Kita hanya dapat melihat efeknya pada gerhana Matahari, jika peristiwa supermoon ini bertepatan dengan gerhana Matahari. Karena itu, peristiwa supermoon akan bagus untuk disaksikan jika fase bulannya purnama. Untuk alasan inilah, pada tabel 2 dan tabel 3 di atas hanya ditampilkan fenomena supermoon saat fase purnama saja.

Sebagai contoh adalah peristiwa supermoon 19 Maret 2011. Diameter sudut Bulan saat supermoon 19 Maret 2011 ini adalah 33,5’ atau setengah derajat lebih 3,5’. Nilai ini sebanding dengan sekitar 14% lebih besar daripada diameter sudut saat bulan di apogee. Jika kita mengamati bulan purnama dengan mata tanpa bantuan teleskop, perbedaan tampakan sebesar itu tidak akan terlalu terlihat. Lain halnya jika kita mengamatinya dengan menggunakan alat bantu teleskop, kita bisa lebih jelas melihat detail-detil permukaan Bulan. Karena jaraknya yang lebih dekat dan tampakannya yang lebih besar, konsekuensinya Bulan akan terlihat lebih cerlang daripada biasanya. Berdasarkan perhitungan, Bulan saat supermoon ini lebih cerlang sekitar 30 % daripada kecerlangan Bulan saat di apogee.

Khusus untuk supermoon 19 Maret 2011 yang terjadi pada pukul 19:10 UT atau 20 Maret 2011 pukul 02:10 WIB, kondisi bulan saat tersebut masih di daerah atas (tidak dekat horizon apalagi terbenam). Hal ini sangatlah menguntungkan bagi pengamat di indonesia, karena dengan demikian jarak pengamat di permukaan Bumi terhadap Bulan akan semakin pendek lagi. Sebagai contoh adalah untuk pengamat di kota Jakarta. Berdasarkan perhitungan, ternyata saat supermoon itu, jarak pengamat di Jakarta terhadap Bulan adalah sekitar 351290 km atau lebih dekat 5287 km dibandingkan untuk pengamat yang diandaikan di pusat Bumi. Karena itu, Bulan akan terlihat lebih besar lagi dan lebih cerlang lagi!

Selamat menikmati Supermoon dan semoga langit cerah!

Nb: Dengan memperhatikan uraian di atas, dapat dikatakan bahwa secara sains astronomi, siklus supermoon dapatlah diprediksi. Namun demikian, peristiwa supermoon belum tentu berkaitan dengan bencana meskipun kejadiannya pada waktu yang hampir bersamaan. Karena itu, sebenarnya saya lebih suka menyebut supermoon ini dengan perigeemoon karena kandungan ilmiahnya lebih jelas. Hanya saja, istilah supermoon sepertinya sudah ngetrend, maka mau tidak mau saya mengikuti istilah yang lebih umum. Namun, tetap dengan menekankan bahwa meskipun secara sains astronomi supermoon bisa diprediksi, efeknya pada bencana belum tentu berkaitan.

Referensi:

[1] http://en.wikipedia.org/wiki/Supermoon diakses tanggal 19 Maret 2011

[2] http://www.astropro.com/features/articles/supermoon/ diakses tanggal 19 Maret 2011

Advertisements

5 thoughts on “Supermoon-Perigeemoon”

  1. Menarik,,
    Bagi yang suka teori konspirasi tentu saja akan menganggap kejadian ‘supermoon’ dan bencana alam ini saling berkaitan. Usaha untuk mencari penjelasan terhadap sesuatu memang sudah jadi sifat manusia. Sehubungan dengan peristiwa ini, saya setuju cengan tidak ada bukti ilmiah yang mendukung teori ini. Yah, miriplah dengan ‘awan gempa’, probabilitasnya masih terlalu kecil dan faktor kebetulannya terlalu besar. Agaknya belum bisa diterima oleh komunitas ilmiah yang cenderung empirik.

    Tapi, satu hal yang pasti, teori ini belum tentu juga salah. Ilmu pengetahuan yang semakin berkembang (hopefully) mungkin suatu hari bisa memberikan kepastiannya.

    ^^

    1. Yup, dan memang itu bisa menjadi salah satu pendorong bagi kita untuk menelaah lebih dalam sehingga pertanyaan (atau pernyataan?) terkait tidaknya supermoon ini dengan kejadian bencana di muka bumi terjawab 🙂

  2. Alam dan hukum alam tersembunyi di balik malam.
    Tuhan berkata, biarlah Newton ada! Dan semuanya akan terang benderang.

    “Bersukarialah para arwah karena hiasan yang ditinggalkannya bagi kemanusiaan!”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s