Pendidikan Sains Kita

Kita patut bersyukur dengan sejumlah prestasi yang telah diraih oleh para duta sains kita di olimpiade sains tingkat internasional, sesuai dengan mata ajaran yang mereka ikuti. Contoh yang terbaru adalah diraihnya dua medali emas bidang IPA pada Olimpiade Matematika dan Sains Internasional tingkat SD yang telah berlalu (Republika, 4 Desember 2004). Hal ini menunjukkan bahwa potensi bangsa ini tidak kalah dari bangsa lain.

Selain itu, adanya pencanangan tahun 2005 sebagai Tahun Ilmu Pengetahuan Indonesia oleh LIPI menunjukkan pandangan kita telah mulai diarahkan pada penguasaan ilmu-ilmu dasar. Pencanangan ini pun sejalan dengan Visi IPTEK 2025 (SK Menristek No 111/M/Kp/IX/2004) yang menargetkan Indonesia termasuk ke dalam 25 negara termaju di dunia pada 20 tahun ke depan. Tentunya penguasaan ilmu-ilmu dasar akan menjadikan Indonesia sebagai negara yang diperhitungkan dalam percaturan dunia, karena negara-negara yang kuat saat ini adalah yang menguasai ilmu-ilmu dasar dan memanfaatkannya untuk kecerdasan, kemakmuran, dan kesejahteraan rakyatnya serta kemajuan negerinya.

Namun, di samping kesuksesan-kesuksesan yang telah diraih, kita pun masih harus mengurut dada demi melihat kenyataan di lapangan, khususnya pendidikan sains di tingkat dasar dan menengah. Hasil studi International Educational Achievement (IEA) yang menunjukkan kemampuan IPA siswa SLTP pada urutan ke-40 dari 42 negara peserta membuktikan hal ini. Karena itu, perbaikan pendidikan sains di tingkat dasar dan menengah mutlak adanya. Termasuk di dalamnya adalah pengimplementasian Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dalam pembelajaran sains. Di dalam tulisan ini dipaparkan beberapa permasalahan menonjol dalam pendidikan sains selama ini dari sudut pandang praktisi langsung (pengajar sains) dan beberapa solusi yang ditawarkan, yang telah dan sedang dilaksanakan oleh penulis dan rekan-rekan.

Tiga permasalahan

Dari sekian banyak permasalahan pendidikan saat ini, setidaknya ada tiga permasalahan menonjol di pendidikan sains. Pertama, pembelajaran sains masih terpengaruh oleh paradigma pendidikan lama, yaitu yang menempatkan guru sebagai pusat dan siswa sebagai “gelas kosong” yang harus siap diisi sesuai kemampuan guru. Permasalahan ini biasanya satu paket dengan permasalahan kedua, yaitu masih berlangsungnya pematematikaan sains.

Dalam proses pembelajaran, biasanya murid duduk dengan manis, mendengarkan dan mencatat konsep-konsep abstrak yang disampaikan guru, tanpa bisa mengkritisi apa arti konsep itu. Lalu, konsep itu yang biasanya sudah dalam bentuk persamaan matematika, diterapkan pada kasus-kasus khusus. Saat latihan, mereka mungkin bisa mengerjakan soal-soal yang setipe dengan yang dicontohkan guru. Namun, pada saat ada soal yang membutuhkan pemahaman konsep, mereka pun kesulitan dalam menyelesaikannya. Ini karena mereka bukan belajar memahami konsep, tetapi mencatat konsep.

Konsekuensi lanjutannya adalah terjadinya proses alienasi siswa dari lingkungannya. Siswa tidak paham untuk apa sains itu dipelajari, karena konsep-konsep sains yang mereka pelajari tidak bisa mereka terapkan dalam kehidupan sehari-harinya. Dengan demikian, mempelajari sains merupakan beban bagi mereka dan akhirnya siswa pun merasa sains merupakan momok yang menakutkan dalam pembelajarannya.

Padahal, semestinya proses pembelajaran sains dimulai dari mengamati fenomena-fenomena alam secara terstruktur. Lalu menyimpulkan penyebab fenomena-fenomena alam tersebut. Setelah itu, barulah memprediksikan fenomena alam yang akan terjadi berdasarkan simpulan tadi. Dengan kata lain, proses pembelajaran yang bersifat induktiflah yang ditekankan di sini, walaupun sifat deduktif tidak diabaikan.

Proses pembelajaran yang menekankan pengamatan secara terstruktur itu tentunya memerlukan guru yang memahami bidang keilmuannya secara mendalam, luas, dan menjiwainya serta menguasai ilmu pedagogi secara baik. Karena itu peningkatan kompetensi guru, baik dalam pemahaman akan mata ajarannya, juga dalam pedagoginya merupakan sesuatu yang mutlak. Hal lain yang harus diperhatikan adalah kesejahteraannya, karena kualitas guru sangat ditentukan oleh keduanya plus proses rekruitmen dan pembinaannya. Semua ini agar dia lebih memahami ilmunya dan membuat proses pembelajaran menjadi lebih menarik, bergairah, menyenangkan, dan menantang siswa. Hal yang lebih mendasar adalah agar terjadinya pergeseran pola pikir guru dalam pembelajaran sains. Di lain pihak, siswa pun mesti didorong untuk menjadi pembelajar sains yang aktif, kreatif, dan kritis serta menyadari bahwa mempelajari sains merupakan ibadah dan kebutuhannya.

Banyak guru yang mematematikakan sains beralasan pembelajaran yang mengedepankan aspek induktif membutuhkan waktu banyak dan terkadang muncul hal-hal yang di luar dugaan semula. Padahal, mestilah disadari bahwa dari hal-hal yang tidak terduga itu biasanya pemahaman kita akan alam menjadi lebih komprehensif. Terkadang kemajuan ilmu pengetahuan hadir dari hal-hal seperti ini. Sebagai contoh adalah penemuan radioaktivitas spontan secara tidak sengaja oleh Becquerel dan pendeteksian radiasi latar belakang kosmik (cosmic microwave backround radiation) yang tidak direncanakan oleh Penzias dan Wilson. Sumbangsih mereka pada kemajuan ilmu pengetahuan itu pun diganjar dengan hadiah Nobel Fisika. Selain itu, bukankah dalam kurikulum KBK yang diutamakan adalah kompetensi siswa dan bukan habis tidaknya materi yang dipelajari? Jika dalam waktu yang ditentukan, siswa dianggap telah kompeten, sementara materi belum habis pembelajaran pun dapat dilanjutkan kepada tema yang lain.

Alasan lain berupa minimnya fasilitas laboratorium dapat disiasati dengan kreativitas guru dan siswa, karena sesungguhnya laboratorium pembelajaran sains adalah alam raya ini. Alam raya ini menyuguhkan beragam fenomena yang menarik dan terkadang penuh misteri. Terlebih sebenarnya bukan lengkap tidaknya laboratorium, tetapi efektif tidaknya penggunaan fasilitas pembelajaran sains tersebut. Begitu juga dengan fasilitas baru dalam pembelajaran, yaitu jejaring, misalnya situs pendidikan dari Diknas, http://www.e-dukasi.net, harus dimanfaatkan secara maksimal. Dengan kreativitas guru dan siswa, secara lambat laun pembelajaran sains akan bergeser kepada siswa sebagai subjek dan guru sebagai fasilitator, sehingga siswa terkondisikan menjadi kritis, kreatif, dan dapat mengeksplorasi alam sesuai dengan kemampuannya.

Apabila ada ketimpangan, misalnya ada siswa yang cepat dalam belajar sementara yang lain lambat, maka siswa yang cepat itu haruslah didorong untuk menjadi tutor sebaya agar beban psikologis siswa yang lambat terkikis sedikit demi sedikit dan siswa yang cepat dalam pembelajaran termotivasi untuk terus maju. Hasil sampingan pun akan hadir, yaitu berkurangnya beban guru dalam pembelajaran yang diakibatkan tidak proporsionalnya rasio guru dan siswa. Tentu saja untuk jangka panjang, jumlah mata ajaran peminggu haruslah dibuat lebih sedikit namun efisien agar pembelajaran lebih efektif dan rasio guru dan siswa harus dibuat proporsional.

Namun, meski kedua permasalahan itu dapat diatasi, jika permasalahan yang ketiga masih tetap ada, harapan kita agar sains lebih menarik untuk dipelajari akan lambat untuk diraihnya. Permasalahan yang dimaksud adalah masih kurangnya apresiasi masyarakat kita akan prestasi di bidang sains sebagaimana halnya pada bidang lain; seni tarik suara misalnya. Contoh nyata adalah gegap gempitanya animo masyarakat akan Akademi Fantasi Indosiar (AFI), Indonesian Idol (II), atau Kontes Dangdut TPI (KDI) daripada terhadap olimpiade sains. Jika saat ini kita bertanya kepada khalayak, “Siapakah yang lebih Saudara ketahui, Masyhur Azis Hilmy ataukah Siti Rahmawati?” Yakinlah jawabannya adalah Siti Rahmawati. Padahal prestasi Masyhur tidak kalah dari Siti, yaitu meraih first prize (setingkat emas) dalam Olimpiade Astronomi Internasional 2004 di Ukraina. Bagaimana para siswa akan tertarik untuk berprestasi di bidang sains, jika nama orang-orang yang berprestasi di bidang itu pun mereka tidak tahu? Bahkan bisa jadi minat yang ada akan layu sebelum waktunya jika dukungan untuk menumbuhkembangkan potensi para bunga bangsa ini minim.

Proses sosialisasi

Karena itulah pensosialisasian sains serta orang-orang yang berprestasi di dalamnya kepada khalayak mestilah dengan gegap gempita. Salah satunya bisa dilakukan dengan turun gunungnya para saintis dari menara gadingnya; sebagai suatu bentuk pertanggungjawaban mereka kepada rakyat. Tentu saja hal ini berkaitan dengan ruang tempat mereka mentransferkan ilmunya kepada masyarakat dan masih jauhnya perbedaan rasa bahasa antara orang awam dan para praktisi di bidang olah pikir itu.

Ambil contoh dari bidang kosmologi: alam semesta tipe datar. Para kosmolog seyogianya menjelaskan “alam semesta tipe datar” itu kepada masyarakat di ruang-ruang yang ada agar mereka menjadi tahu. Syukur-syukur bisa tertarik untuk mendalami bidang yang terkenal sains murni itu. Ruang-ruang itu bisa berupa tulisan di media massa, diskusi di media elektronik, bertemu muka dengan para siswa dan khalayak, atau ruang lain yang dikemas sedemikian rupa. Bagi siswa, berdiskusi langsung dengan para saintis akan menjadi hal yang sangat berkesan dan dapat memotivasi mereka untuk berkarier di sini.

Jika ruang-ruang itu masih kurang, diperlukanlah upaya untuk memperluasnya agar akses masyarakat akan ilmu pengetahuan semakin terbuka lebar. Di sinilah, lembaga-lembaga yang mempunyai perhatian pada bidang sains dapat berperan lebih; bukan hanya menjadi sponsor dalam kegiatan yang terkait dengan sains. Mereka dapat menjadi penghubung konsep-konsep sains yang dipelajari siswa di sekolah dengan sains yang diterapkan di masyarakat. Kerja sama erat lembaga ini dengan sekolah dan masyarakat mutlak adanya agar siswa semakin menyadari bahwa sains itu nyata (bukan sesuatu yang abstrak), yang terbukti dengan dapat diterapkannya sains di kehidupan sehari-hari, dan masyarakat semakin mengapresiasi sains dan orang-orang yang berprestasi di dalamnya. Tentu saja bagi lembaga ini pun ada imbasnya, misalnya semakin mengakarnya kehadiran mereka di masyarakat.

Jika kita memperhatikan kurikulum KBK dengan saksama, sesungguhnya apa yang dipaparkan di atas ada di sana, terlepas dari apa pun kekurangan kurikulum itu. Tetapi kita harus menyadari bahwa selama ini konsep-konsep pendidikan yang telah ada jarang diimplementasikan dengan baik. Jadi, sebagus apapun kurikulum pendidikan, selama pola pikir kita dalam pendidikan sains belum berubah, sejauh itu pula pendidikan sains kita akan terpuruk. Karena itulah, pendidikan sains bukanlah tugas guru semata. Tempatnya pun bukan hanya di ruang-ruang kelas atau laboratorium. Pendidikan sains merupakan hak sekaligus kewajiban kita agar apa yang diharapkan dari pendidikan sains ini, yaitu semakin semakin cerdasnya umat-bangsa ini dapat terwujud. Insya Allah.

Catatan:

Tulisan ini pernah dimuat di harian Republika, 9 Desember 2004.

Tulisan ini ditulis ulang dari: http://www.lipi.go.id/www.cgi?cetakberita&1103004171&&2004&

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s