Ayo, Kita Amati Hilal Penentu Awal Ramadhan 1432 H

Teramatinya Hilal Ramadhan 1432 H dengan kamera digital dari Indonesia akan menjadi salah satu Hilal rekor dunia!

Ramadhan 1432 H sudah semakin dekat dan banyak orang yang bertanya, kapan shaum Ramadhan kali ini dimulai? Secara kenegaraan penentuan awal shaum Ramadhan dinyatakan dari hasil sidang isbat Badan Hisab Rukyat, Kementerian Agama (BHR-Kemenag). Dasar sidang isbat itu adalah hasil hisab dan rukyat para ahli falak, ormas-ormas islam dan institusi lain yang terkait. Menurut informasi BHR-Kemenag [1], sidang isbat sendiri akan dilaksanakan pada 31 Juli 2011 untuk menentukan apakah shaum Ramadhan 1432 H nanti akan dimulai pada 1 Agustus 2011 ataukah pada 2 Agustus 2011.

Terlepas dari proses kenegaraan tersebut, secara astronomis, Hilal penentu awal bulan Ramadhan 1432 H ini memang menantang untuk diamati. Sebagaimana dapat dilihat pada Gambar 1, menurut Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) tinggi Hilal dari horizon teramati saat Matahari terbenam di Indonesia pada 31 Juli 2011 adalah antara 4,55o sampai dengan 6,50o [2]. Pada Gambar 1 pula ada istilah konjungsi geosentrik : Ahad, 31 Juli 2011, pukul 1 : 40 WIB. Konjungsi geosentrik atau konjungsi atau lebih dikenal dengan ijtima’ adalah peristiwa ketika Bulan dan Matahari berada pada bujur ekliptika yang sama. Pada saat tersebut hampir seluruh cahaya Matahari yang dipantulkan Bulan tidak menghadap ke Bumi, sehingga Bulan disebut dalam fase bulan baru atau bulan mati. Peristiwa ini bersama waktu Matahari terbenam dan posisi Hilal saat Matahari terbenam adalah tiga poin penting yang terkait dengan waktu harus dilakukannya pengamatan atau rukyat Hilal. Untuk mengetahui hal itu, tentunya harus diketahui pula waktu Matahari terbenam di Indonesia pada 31 Juli 2011. Dari hasil perhitungan, waktu terbenam Matahari di Indonesia pada 31 Juli 2011 terjadi antara pukul 17 : 37 WIT di Merauke sampai dengan pukul 18 : 56 WIB di Sabang. Dari perbandingan waktu konjungsi dan waktu terbenam Matahari tersebut dapat disimpulkan konjungsi terjadi sebelum Matahari terbenam di Indonesia. Karena itu, rukyat Hilal penentu awal bulan Ramadhan 1432 H tersebut dilakukan pada tanggal 31 Juli 2011.

Gambar 1. Peta ketinggian Hilal dari horizon teramati saat Matahari terbenam tanggal 31 Juli 2011 di Indonesia. Sumber: BMKG [2].

Dengan tinggi Hilal antara 4,55o sampai dengan 6,50o tersebut banyak yang mengatakan Hilal penentu awal Ramadhan 1432 H akan mudah untuk diamati. Ini karena Hilal dengan tinggi 2o pun ada yang mengklaim bisa mengamatinya. Namun, berdasarkan rekapitulasi rukyat Hilal yang diakui di dunia internasional, misalnya oleh Islamic Crescents’ Observation Project (ICOP), ternyata Hilal dengan ketinggian di bawah 6,50o sangat sulit untuk diamati. Itupun ternyata bukan tinggi Hilal yang dicatat dalam rekor ICOP, tetapi aspek lain pada posisi Hilal, yaitu elongasi, umur Bulan dan lag. Menurut ICOP, elongasi adalah besar sudut yang terentang antara Bulan dan Matahari saat diamati dari Bumi. Adapun umur Bulan adalah selisih antara teramatinya Hilal dengan waktu konjungsi. Sementara lag adalah selisih antara waktu terbenam Bulan dengan waktu terbenam Matahari.

Hingga saat ini, rekor dunia hasil rukyat Hilal yang diakui oleh ICOP untuk pengamatan dengan kamera digital adalah 8.37o untuk kategori elongasi terkecil, 16 jam 11 menit untuk kategori umur termuda dan 20 menit untuk kategori lag tercepat [3]. Dengan definisi yang sedikit berbeda, BMKG menyatakan bahwa elongasi Hilal penentu awal Ramadhan 1432 H di Indonesia adalah antara 7,90o sampai dengan 9,80o, umur Bulan antara 13,90 jam sampai dengan 17,30 jam dan lag antara 23 menit sampai dengan 32 menit. Dengan memperhatikan informasi-informasi tersebut, dapat dikatakan jika Hilal penentu Ramadhan 1432 H teramati dengan kamera digital dari Indonesia, Hilal tersebut akan menjadi salah satu Hilal rekor dunia, untuk kategori elongasi terkecil atau umur Bulan termuda.

Untuk mengamati Hilal di daerah rekor dunia itu tentu saja diperlukan kondisi cuaca yang cerah, khususnya di horizon Barat. Ini karena keteramatan Hilal bukan saja bergantung pada beberapa faktor astronomis di atas, tetapi juga pada faktor-faktor meteorologis, seperti tranparansi atmosfer di horizon Barat, temperatur, kelembapan dan tekanan atmosfer lokasi pengamatan. Sebagaimana diinformasikan BMKG, pada bulan Juli ini Indonesia sudah memasuki musim kemarau [4]. Hal ini tentu saja meningkatkan kemungkinan teramatinya Hilal penentu awal bulan Ramadhan 1432 H tersebut dan diharapkan Hilal tersebut akan teramati.

Dengan keadaan di atas, apa yang sebaiknya dilakukan jika Hilal yang berpotensi menjadi Hilal rekor dunia tersebut akan diamati? Pemilihan lokasi yang tepat adalah hal utama yang harus dilakukan dalam pengamatan Hilal ini. Syarat lokasi tersebut adalah tidak terhalangnya arah pandangan pengamat ke horizon Barat. Lokasi ini tidak perlu di pinggir laut, karena di atas bukit atau atap gedung tinggi pun bisa. Namun demikian, jika pengamat berada di gedung yang tinggi, yang biasanya berada di kota besar, efek polusi kota harus diperhitungkan. Ini karena polusi akan mempengaruhi jarak pandang ke horizon Barat, yang pada gilirannya akan mempengaruhi keteramatan Hilal itu sendiri.

Ada baiknya dilakukan juga orientasi di lokasi pengamatan, khususnya arah terbenam Matahari dan posisi Bulan saat dan setelah Matahari terbenam. Orientasi ini sebaiknya dilakukan sejak sehari sebelumnya agar posisi Matahari terbenam juga posisi Bulan pada tanggal 31 Juli 2011 dapat diperkirakan dengan baik. Selain itu, orientasi pun dapat dilakukan dengan menggunakan planetarium astronomi yang bebas diakses di internet, misalnya stellarium [5]. Dengan menggunakan perangkat lunak tersebut, posisi Matahari dan Bulan pada suatu waktu dari lokasi yang ditentukan dapat disimulasikan dengan baik. Misalnya, pada saat Matahari terbenam tanggal 31 Juli 2011, posisi Bulan adalah di sebelah kiri-atas Matahari. Jika dinyatakan dalam orientasi angka-angka jam, “tanduk-tanduk” Hilal adalah di angka 2 dan angka 8, dengan pusat sabit ada di angka 5.

Saat orientasi tersebut, perlu dipersiapkan juga peralatan yang akan digunakan untuk mengamati Hilal. Beragam peralatan bisa digunakan dalam pengamatan Hilal ini, mulai dari yang tradisional, seperti gawang lokasi, sampai yang paling modern, misalnya teleskop terkomputerisasi. Teleskop tersebut bisa digunakan dengan mata saja atau dengan dipasangkan detektor, misalnya webcam, kamera digital biasa, kamera DSLR atau detektor khusus astronomi, yang dikenal dengan CCD astronomi. Pemasangan peralatan tersebut sebaiknya dilakukan sejak siang agar tidak terburu waktu Matahari terbenam. Untuk teleskop yang terkomputerisasi, pengarahan dan penggerakkan teleskop itu sebaiknya dikalibrasi dulu ke Matahari agar saat diarahkan ke posisi Bulan bisa otomatis mengarah dan untuk selanjutnya mengikuti gerak Bulan dengan akurat.

Pengamatan Hilalnya sendiri dilakukan setelah Matahari terbenam. Ini karena Hilal sangat redup, ketebalannya sangat tipis, dan sulit dibedakan dengan kecerlangan langit di sekitarnya serta waktu pengamatan yang tidak lama. Pengamatannya sendiri memerlukan kondisi langit yang agak redup dan hal ini terjadi beberapa menit setelah Matahari terbenam. Namun, kondisi ini dibatasi oleh waktu terbenam Bulan, yang biasanya kurang dari 30 menit sejak Matahari terbenam. Selain itu, faktor atmosfer yang biasanya berubah cepat akan semakin menyulitkan pengamatan Hilal tersebut. Karena itu, pengamatan Hilal memang sangat menantang dan memerlukan perencanaan yang matang plus kondisi cuaca yang mendukung.

Jika proses di atas tidak dapat dilakukan sendiri, Hilal tersebut masih dapat diamati dari rumah atau kantor atau tempat lainnya, asalkan ada akses internet. Ya, dengan diaksesnya situs http://hilal.kominfo.go.id atau http://bosscha.itb.ac.id/hilal, sama halnya dengan Hilal tersebut diamati secara langsung dari lokasi pengamatan. Ini karena keduanya adalah situs informasi resmi jejaring 14 titik pengamatan Hilal online yang real-time di Indonesia. Peralatan yang digunakan dalam rukyat Hilal online itu sendiri adalah teleskop terkomputerisasi dan detektor yang dipadupadankan dengan jaringan internet agar datanya bisa tayang langsung. Lokasinya pun tersebar, mulai dari Timur Indonesia, yaitu Biak-Papua, Indonesia bagian Tengah, seperti Kupang-NTT dan Denpasar-Bali, sampai ujung Barat Indonesia, yaitu Lhok Nga-Aceh. Jika Hilal itu berhasil dideteksi keberadaannya di layar komputer selama tayang langsung tersebut, maka Hilal rekor dunia pun bisa terpecahkan! Karena itu, ayo kita amati Hilal penentu awal Ramadhan 1432 H!

Referensi:

[1] http://www.kemenag.go.id/index.php?a=detilberita&id=7575. Diakses pada 25 Juli 2011.

[2] http://data.bmkg.go.id/share/Dokumen/informasi_hilal_ramadhan_1432h.pdf. Diakses pada 20 Juli 2011

[3] http://www.icoproject.org/record.html. Diakses pada 25 Juli 2011.

[4] http://www.bmkg.go.id/BMKG_Pusat/DataDokumen/Ikhtisar_perkembangan_MK_11_sd_DasarianII_Juni%2011.pdf. Diakses pada 25 Juli 2011

[5] http://www.stellarium.org/. Diakses pada 25 Juli 2011

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s